Sinau Bareng Tata Nilai Budaya

Kundha Kabudayan (Dinas Kebudayaan) Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) mengadakan Sinau Bareng Tata Nilai Budaya di Desa Ekowisata Pancoh, Kalurahan Girikerto, Kapanewon Turi, Kabupaten Sleman pada Senin, 21 Juni 2021.

Kalurahan Girikerto dipilih untuk dijadikan peserta dalam kegiatan ini karena Girikerto merupakan Desa Budaya di Kapanewon Turi. Kegiatan ini bertujuan untuk belajar (jawa: sinau) mengenai kebudayaan yang masih ada di Kalurahan Girikerto.

“Untuk nguri-uri kabudayan Jawa, setiap padukuhan di Kalurahan Girikerto ini memiliki komunitas budaya sesuai dengan kondisi padukuhan masing-masing,” ungkap Sudibyo selaku Lurah Girikerto.

Beberapa komunitas seni dan budaya tersebut antara lain kelompok ketoprak, kelompok jatilan, kelompok karawitan, kelompok rudat atau rudatan, kelompok langentaya, dan sebagainya.

“Selain kebudayaan tersebut, Kalurahan Girikerto juga sedang merintis batik khas yang kami beri nama batik Samalor,” papar Krisna Cahyana selaku Carik atau Sekretaris Lurah Girikerto.

Kata samalor tersebut merupakan singkatan dari salak, tokoh Semar, dan burung punglor. Motif batik tersebut diambil dari ikon-ikon yang ada di Kalurahan Girikerto sendiri yaitu salak sebagai produk utama pertanian, tokoh Semar sebagai ikon pewayangan, dan burung punglor sebagai ikon satwa yang banyak terdapat di Girikereto.

Kebudayaan yang ada di Kalurahan Girikerto tetap dilestarikan hingga saat ini selain untuk menjaga keaslian budaya Jawa juga untuk mendongkrak perekonomian warga masyarakat di Kalurahan Girikerto. Salah satu langkah untuk mewujudkan cita-cita tersebut adalah dengan menjadikan beberapa sentral seni budaya sebagai objek atau tujuan wisata budaya.

“Tantangan dalam menciptakan wisata budaya adalah bagaimana cara menjaga budaya agar dapat menciptakan wisata, sehingga keduanya berjalan harmonis dan tidak berbenturan,” kata Sudibyo.

Kegiatan ini juga dihadiri oleh Purwadmadi Admadipurwa, Arie Sujito, dan Argo Twikromo. Purwadmadi, selaku narasumber dari kelompok seniman, menjelaskan bahwa budaya dibuat oleh masyarakat itu sendiri. Tanpa adanya aksi dari masyarakat, maka kebudayaan  bisa luntur dan hilang. Namun, budaya juga dapat dijaga dengan sebuah budaya.

“Jika ada seseorang tidak menjaga atau mengikuti kebudayaan, maka mereka akan menerima budaya sanksi sosial dari masyarakat dan hati mereka masing-masing,” jelas Purwadmadi.

“Lalu, supaya budaya itu tetap lestari kita perlu menyatukan kebudayaan dengan kehidupan modern dengan seimbang dan selaras,” sambung Arie.

[Putri DK]

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*